<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>arifs Weblog</title>
	<atom:link href="http://madures.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madures.wordpress.com</link>
	<description>hidup harus selalu memandang kedepan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Feb 2008 10:11:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='madures.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>arifs Weblog</title>
		<link>http://madures.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://madures.wordpress.com/osd.xml" title="arifs Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://madures.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali</title>
		<link>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/aku-menangis-untuk-adikku-6-kali/</link>
		<comments>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/aku-menangis-untuk-adikku-6-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 10:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madures.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=18&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat<br />
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,<br />
dan punggung mereka menghadap ke langit.<br />
Aku mempunyai seorang adik, tiga  tahun lebih muda  dariku.<br />
<span id="more-18"></span><br />
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang<br />
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,<br />
Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.<br />
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat<br />
adikku dan aku berlutut di depan tembok,<br />
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.<br />
&#8220;Siapa yang mencuri uang itu?&#8221; Beliau bertanya. Aku<br />
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.<br />
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi<br />
Beliau mengatakan, &#8220;Baiklah, kalau begitu, kalian<br />
berdua layak dipukul!&#8221;<br />
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.<br />
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan<br />
berkata, &#8220;Ayah, aku yang melakukannya!&#8221;</p>
<p>Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku<br />
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia<br />
terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.<br />
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu<br />
bata kami dan memarahi, &#8220;Kamu sudah belajar mencuri dari rumah<br />
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa<br />
mendatang?<br />
&#8230;<br />
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!&#8221;</p>
<p>Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan<br />
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata<br />
setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis<br />
meraung-raung.<br />
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan<br />
berkata, &#8220;Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.&#8221;</p>
<p>Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki<br />
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi<br />
insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah<br />
akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku<br />
berusia 8 tahun. Aku berusia 11.</p>
<p>Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia<br />
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya<br />
diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah<br />
berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi<br />
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, &#8220;Kedua anak kita memberikan<br />
hasil yang begitu baik&#8230;hasil yang begitu baik&#8230;&#8221; Ibu mengusap air<br />
matanya yang mengalir dan menghela nafas, &#8220;Apa gunanya? Bagaimana<br />
mungkin<br />
kita bisa membiayai keduanya sekaligus?&#8221;</p>
<p>Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah<br />
dan berkata, &#8220;Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah<br />
cukup membaca banyak buku.&#8221; Ayah mengayunkan tangannya dan memukul<br />
adikku pada wajahnya. &#8220;Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu<br />
keparat lemahnya?<br />
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan<br />
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!&#8221; Dan begitu<br />
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam<br />
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku<br />
yang<br />
membengkak, dan berkata, &#8220;Seorang anak laki-laki harus meneruskan<br />
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang<br />
kemiskinan ini.&#8221; Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi<br />
meneruskan ke universitas.</p>
<p>Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,<br />
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan<br />
sedikit<br />
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan<br />
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: &#8220;Kak, masuk ke<br />
universitas<br />
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.&#8221;</p>
<p>Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,<br />
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun<br />
itu,<br />
adikku berusia 17 tahun. Aku 20.</p>
<p>Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan<br />
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di<br />
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di<br />
universitas).<br />
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku<br />
masuk dan memberitahukan, &#8220;Ada seorang penduduk dusun menunggumu<br />
di luar sana!&#8221;</p>
<p>Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku<br />
berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor<br />
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, &#8220;Mengapa kamu tidak<br />
bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?&#8221; Dia menjawab,<br />
tersenyum, &#8220;Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir<br />
jika<br />
mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?&#8221;</p>
<p>Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku<br />
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam<br />
kata-kataku, &#8220;Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku<br />
apa<br />
pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu&#8230;&#8221;</p>
<p>Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut<br />
berbentuk kupu-kupu.<br />
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,<br />
&#8220;Saya melihat semua gadis kota memakainya.<br />
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.&#8221;<br />
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku<br />
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.</p>
<p>Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.</p>
<p>Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca<br />
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.<br />
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.<br />
&#8220;Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk<br />
membersihkan<br />
rumah kita!&#8221; Tetapi katanya, sambil tersenyum, &#8220;Itu adalah adikmu yang<br />
pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka<br />
pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..&#8221;</p>
<p>Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat<br />
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.<br />
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.<br />
&#8220;Apakah itu sakit?&#8221; Aku menanyakannya.<br />
&#8220;Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di<br />
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap<br />
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan&#8230;&#8221;<br />
Ditengah kalimat itu ia berhenti.<br />
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata<br />
mengalir deras turun ke wajahku.<br />
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.</p>
<p>Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali<br />
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal<br />
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.<br />
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,<br />
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku<br />
tidak setuju juga, mengatakan, &#8220;Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan<br />
menjaga ibu dan ayah di sini.&#8221;</p>
<p>Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan<br />
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen<br />
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.<br />
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.</p>
<p>Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk<br />
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,<br />
dan masuk rumah sakit. Suamiku dan<br />
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada<br />
kakinya, saya  menggerutu, &#8220;Mengapa kamu menolak menjadi manajer?<br />
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya<br />
seperti<br />
ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak<br />
mau mendengar kami sebelumnya?&#8221;</p>
<p>Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela<br />
keputusannya. &#8220;Pikirkan kakak ipar&#8211;ia baru saja jadi direktur, dan<br />
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,<br />
berita seperti apa yang akan dikirimkan?&#8221;</p>
<p>Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar<br />
kata-kataku yang sepatah-sepatah: &#8220;Tapi kamu kurang pendidikan juga<br />
karena aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa membicarakan masa lalu?&#8221; Adikku menggenggam<br />
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.</p>
<p>Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang<br />
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara<br />
perayaan itu bertanya kepadanya, &#8220;Siapa yang paling kamu hormati<br />
dan kasihi?&#8221; Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, &#8220;Kakakku.&#8221;</p>
<p>Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah<br />
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. &#8220;Ketika saya pergi sekolah SD,<br />
ia<br />
berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan<br />
selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.<br />
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.<br />
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia<br />
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.<br />
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang<br />
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,<br />
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan<br />
baik kepadanya.&#8221;</p>
<p>Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu<br />
memalingkan perhatiannya kepadaku.</p>
<p>Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,<br />
&#8220;Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.&#8221;<br />
Dan<br />
dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan<br />
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.</p>
<p>Diterjemahkan dari : &#8220;I cried for my brother six  times&#8221;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/madures.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/madures.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madures.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madures.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madures.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=18&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/aku-menangis-untuk-adikku-6-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f330324693ec2a1b9916e1ec9956f4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">madures</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nenek Naik Bus yang Berjiwa Muda</title>
		<link>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/nenek-naik-bus-yang-berjiwa-muda/</link>
		<comments>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/nenek-naik-bus-yang-berjiwa-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 07:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[entertaintment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madures.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang nenek tua yang lagi naik bis jurusan Lebak Bulus, lalu kondektur menanyakan si nenek mau turun dimana, lalu nenek bilang kalo mau turun di Republika. Saat bis mendekati Republika si kondektur menyuruh supir untuk berhenti, tetapi sebelum bis berhenti si nenek sudah melompat dari bis. Kondektur pun langsung turun karena khawatir kalo si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=19&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang nenek tua yang lagi naik bis jurusan Lebak Bulus, lalu kondektur menanyakan si nenek mau turun dimana, lalu nenek bilang kalo mau turun di Republika. Saat bis mendekati Republika si kondektur menyuruh supir untuk berhenti, tetapi sebelum bis berhenti si nenek sudah melompat dari bis. Kondektur pun langsung turun karena khawatir kalo si nenek celaka. Tapi anehnya si nenek tidak mengalami luka sedikitpun, lalu kondektur bertanya:</p>
<p>Kondektur : &#8220;Nek, tadi kok sudah lompat keluar sebelum bis berhenti.&#8221;</p>
<p>Lalu si nenek pun menjawab&#8230;</p>
<p>Nenek : &#8220;Biasa, kenakalan remaja!&#8221;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/madures.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/madures.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madures.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madures.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madures.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=19&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/nenek-naik-bus-yang-berjiwa-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f330324693ec2a1b9916e1ec9956f4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">madures</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>janganlah membebani diri dengan agama</title>
		<link>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/janganlah-membebani-diri-dengan-agama/</link>
		<comments>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/janganlah-membebani-diri-dengan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 04:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madures.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[“Artinya : Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Al-Haula binti Tuwaitin melewatinya, sedangkan disisinya ada Rasulullah Shallallahu ‘alaiahi wa sallam, lalu aku (Aisyah) berkata, ‘Ini adalah Al-Haula binti Tuwaitin, mereka berkata bahwa dia tidak pernah tidur malam’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak pernah tidur malam?!”, Ambillah dari perkerjaan menurut kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=16&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Artinya : Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Al-Haula binti Tuwaitin melewatinya, sedangkan disisinya ada Rasulullah Shallallahu ‘alaiahi wa sallam, lalu aku (Aisyah) berkata, ‘Ini adalah Al-Haula binti Tuwaitin, mereka berkata bahwa dia tidak pernah tidur malam’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak pernah tidur malam?!”, Ambillah dari perkerjaan menurut kemampuanmu. Demi Allah, Allah tidak merasa bosan sehingga kamu merasa bosan” [1]</p>
<p>Wahai ukhti Muslimah !<br />
Allah telah memberi kemudahan agama kepada kita dan tidak menjadikan kita merasa keberatan atau pun kesulitan melaksanakannya serta mengkaruniakan kita kenikmatan berupa kemudahan. FirmanNya.</p>
<p>“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]</p>
<p>Berangkat dari sini, maka engkau tidak boleh mempersulit dirimu sendiri dalam beribadah kepada Rabb. Sebab orang yang mempersulit dirinya sendiri dalam ibadah, berarti bertentangan dengan ruh Islam, yang akhirnya cepat atau lambat hal itu akan menimbulkan kebosanan, jemu ataupun tidak mampu melaksanakan lagi ibadah tersebut. Perhatikanlah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
<span id="more-16"></span><code></code><code><br />
Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali seseorang tidak mempersulit agama melainkan justru dia dikalahkan. Maka benarkanlah, bersahajalah, berilah kabar gembira dan memohonlah pertolongan dengan pergi pada waktu pagi dan sore serta sebagian dari akhir malam” [2]</code></p>
<p>Yang harus engkau lakukan wahai ukhti Muslimah, adalah memilih jalan tengah dalam ibadah, tidak meremehkan dan tidak berlebih-lebihan. Karena Allah tidak membebani kamu agar kamu mempersulit dirimu sendiri dalam melaksanakan apa yang Dia tuntut darimu, atau agar engkau melaksanakannya. Contohnya, engkau berbuat secara berlebih-lebihan dalam melaksanakan shalat sunat. Hal in lama kelamaan hanya akan menimbulkan rasa jemu atau bosan atau akhirnya sama sekali tidak mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dan dunia.</p>
<p>Wahai ukhti Muslimah !<br />
Islam menuntut agar kita berbuat untuk kepentingan akhirat selagi di dunia dan tidak meremehkan urusan dunia yang tampaknya tidak berbobot. Allah Ta’ala telah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan, carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah keadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [Al-Qashash : 77]</p>
<p>Perhatikanlah kisah berikut ini yang pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik berkata : “Ada tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang ibadah beliau. Tatkala mereka sudah diberi tahu, seakan-akan mereka menganggap sedikit ibadah beliau. Mereka berkata, ‘Dimanakah kita bila dibandingkan dengan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal dosanya yang akan datang dan yang lalu telah diampuni’. Salah seorang diantara mereka berkata, ‘Sedangkan aku shalat malam terus menerus’. Yang lain berkata, Aku berpuasa sepanjang masa dan tidak pernah berbuka’. Sedangkan yang lain lagi berkata, ‘Aku menjauhi wanita dan tidak menikah selama-lamanya’. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : ‘Kamukah orang-orang yang berkata begini dan begini? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling bertakwa kepadaNya di antara kamu, tetapi aku berpuasa dan juga berbuka, shalat (malam) dan juga tidur serta menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia tidak termasuk goloanganku” [3]</p>
<p>Wahai Ukhti Muslimah !<br />
Inilah manhaj Islam yang mengambil jalan tengah, tidak meremehkan dan tidak pula berlebih-lebihan. Perhatikanlah baik-baik dalam wasiat ini, bahwa Al-Haula’ adalah seorang wanita shalihah. Dia mengira bahwa tatkala dia melatih dirinya dalam ketaatan kepada Allah, ternyata dia telah melakukan urusan yang besar. Dia tidak tidur malam atau tidur hanya sebentar pada siang hari, kemudian jika datang waktu malam, dia bangun dan shalat hingga fajar menyingsing. Dia tidak pernah berpikir bahwa justru hal itu bertentangan dengan petunjuk Islam yang memerintahkan mengambil jalan tengah dan tidak melampaui batas.</p>
<p>Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, dan Aisyah berkata, “Inilah Al-Haula, Orang-orang berkata bahwa dia tidak pernah tidur malam” Beliau merasa heran dengan perbuatan ini, lalu berkata dengan kaget, “Tidak tidur malam?’. Kemudian beliau menuntunnya kepada kebaikan dan keberuntungan dengan cara mengambil jalan tengah dalam ketaatan.</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim, Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/247, Muslim 6/73, Ath-Thabrany, hadits nomor 564 di dalam Al-Kabir.<br />
[2]. Diriwayatkan Al-Bukhary 1/16, An-Nasa’i 8/122 Ahmad 5/69.<br />
[3]. Diriwayatkan Al-Bukhary 7/2, Muslim 9/175-1176</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/madures.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/madures.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madures.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madures.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madures.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=16&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madures.wordpress.com/2008/02/14/janganlah-membebani-diri-dengan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f330324693ec2a1b9916e1ec9956f4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">madures</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kota impian</title>
		<link>http://madures.wordpress.com/2008/02/13/kota-impian/</link>
		<comments>http://madures.wordpress.com/2008/02/13/kota-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 08:24:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madures.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[aku ingin bertanya pada kalian yang membaca tulisanq ini. kepada kalian yang kuat dengan pendiriannya. aq ingin bertanya tentang kota impian kalian. klo&#8217; boleh tolong ceritain dong?gimana kalian akan membentuknya?dimulai dari apa?terus harus diapain kota itu?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=14&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku ingin bertanya pada kalian yang membaca tulisanq ini. kepada kalian yang kuat dengan pendiriannya. aq ingin bertanya tentang kota impian kalian. klo&#8217; boleh tolong ceritain dong?gimana kalian akan membentuknya?dimulai dari apa?terus harus diapain kota itu?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/madures.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/madures.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madures.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madures.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madures.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madures.wordpress.com&amp;blog=2785748&amp;post=14&amp;subd=madures&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madures.wordpress.com/2008/02/13/kota-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f330324693ec2a1b9916e1ec9956f4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">madures</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
